Tepis Isu Menelantarkan Pekerja, Kepsek SMKN 11 Bengkulu Utara Buka Suara dan Beberkan Fakta Sebenarnya

BENGKULU UTARA — Kepala SMKN 11 Bengkulu Utara, Muhammad Iskandar, secara tegas menepis tuduhan miring yang beredar di salah satu media massa terkait dugaan penelantaran terhadap pekerja yang mengalami kecelakaan kerja di lingkungan sekolahnya.

Iskandar menegaskan bahwa narasi yang dipublikasikan tersebut tidak sesuai dengan fakta dan kondisi yang terjadi di lapangan.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang mengenai proyek revitalisasi di SMKN 11 Bengkulu Utara yang berlokasi di Desa Wonoharjo, Kecamatan Giri Mulya, Kabupaten Bengkulu Utara.

Bertanggung Jawab atas Pengobatan dan Hak Gaji

Menjawab tudingan tersebut, Muhammad Iskandar menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memberikan perhatian dan bantuan kepada pekerja sejak terjadinya insiden.

Menurutnya, pekerja yang mengalami kecelakaan langsung mendapatkan penanganan medis dan biaya pengobatan ditanggung. Selain itu, hak keuangan pekerja berupa gaji juga tetap dibayarkan selama yang bersangkutan menjalani masa pemulihan.

“Tudingan bahwa kami menelantarkan pekerja itu sama sekali tidak benar. Kami sudah membantu seluruh biaya pengobatannya, bahkan gajinya tetap kami bayar penuh meskipun beliau belum bisa bekerja karena sakit. Tanggung jawab kemanusiaan tetap kami utamakan,” tegas Muhammad Iskandar.

Soroti Penerapan K3 dan Bantah Narasi Jatuh dari 4 Meter

Terkait standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Iskandar memastikan bahwa Alat Pelindung Diri (APD) telah disediakan sesuai prosedur bagi para pekerja proyek.

Namun, ia mengakui bahwa pengawasan terhadap penggunaan APD oleh setiap pekerja memiliki keterbatasan, terutama apabila terdapat pekerja yang tidak disiplin dalam menggunakannya.

“Semua APD K3 sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara. Hanya saja, mengontrol setiap pekerja satu per satu setiap saat tentu ada keterbatasannya. Terkadang ada pekerja yang membandel dan melepas APD dengan alasan merasa panas atau tidak nyaman,” ungkapnya.

Ia juga membantah narasi yang menyebut korban jatuh dari ketinggian empat meter. Menurutnya, berdasarkan kondisi dan perhitungan di lapangan, korban diperkirakan jatuh dari ketinggian sekitar 2,5 meter.

“Ketinggian total tiang pembangunan itu hanya lima meter. Berdasarkan perhitungan di lapangan, korban jatuh dari ketinggian sekitar 2,5 meter, bukan empat meter seperti yang diberitakan. Jadi narasi itu terlalu dilebih-lebihkan,” tambah Iskandar.

Proyek Revitalisasi Rp1,5 Miliar Diklaim Sesuai Standar

Proyek revitalisasi SMKN 11 Bengkulu Utara diketahui memiliki pagu anggaran sebesar Rp1.505.451.000.

Iskandar menegaskan bahwa pihak sekolah berkomitmen mengawal pelaksanaan pembangunan agar berjalan sesuai spesifikasi teknis dan standar yang berlaku.

Menurutnya, material maupun pekerjaan fisik proyek terus menjadi perhatian agar hasil pembangunan memenuhi standar kualitas dan memberikan manfaat jangka panjang bagi fasilitas pendidikan.

Pihak sekolah berharap informasi yang beredar di tengah masyarakat dapat dilihat secara utuh dan berimbang berdasarkan fakta di lapangan, terutama terkait penanganan pekerja yang mengalami kecelakaan serta pelaksanaan proyek revitalisasi SMKN 11 Bengkulu Utara di Kecamatan Giri Mulya.

(Hen)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *